Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Berkabar

Gambar
angan bergenang menghantar rindu terpasang dendang lantang cerlang di ujung jalan, aku memandang esok dengan hangat mentari di wajah untuk sebuah pertemuan.   tenggelam dalam sinar temu saat kenang bergumam lantam 

Andai Air Mengerti

Gambar
Seperti laras sungai yang syahdu menelusuri mangata di megah masa mencari mahligai keindahan.    Sekaca nadi menemani, menafsir pada nada-nada hilir memangku para padu hening   Lihatlah, Berkilau emas bak bangau putih Terbang membawa megah   Sidoarjo, 2026  

Doa-doa Kelabu

Gambar
di malam redup, kupanjatkan doa paling pijar doa yang menggiringku kepada-Mu berharap tambat doa terpatri, saat doa terijabah nanti, atau esok lantas kupungut hasil doa  di sana, sebagai renyah takdir dari doa-doa yang utuh di pualam kata dan syukur atas doa menjadi jalan cerah. Sidoarjo, 2026  

Rumah yang Tak Ramah

Gambar
Ragamu elok namun penuh belati, seperti mawar menyimpan duri luka ragamu menuai pesona  namun tercoreng oleh sedu seperti ingin menanggalkan luka Kata ibu, pulanglah jika memang kau ingin. namun kataku, “dimana tempat pulang?” dengan besar hati, jika memang tidak- berpihak kepadaku, maka pergilah luka. Sidoarjo, 2026

BANJIR

Gambar
kocar kacir, buyar byar-byur kabur, kocak butir cair cibir ukir usir air bjir-bjir rajin datang di musim hujan lir-lir alir kok mampir sih, yah banjir!

Rindu

Gambar
Seperti sungai yang mengaliri pikiran seperti halnya saat kita dahulu saat waktu terus merangkak perlahan menghanyutkan rasa perlahan membawa persahabatan  seperti sekarang tenang. Kulihat kemarin kau menyeruput sisa-sisa genangan masa lalu kulihat dirimu menyemai tawa dan mengunyah kebahagian kita bersama. Sidoarjo, 2026

Fana

Gambar
Di saat dunia sedang sibuk berkembang di saat matahari menilik dalam kilau aku menatap langit-langit kamarku membenamkan mata dari surya yang mulai tumbuh berkembang menghiasi jendela kamarku Aku menatap orang-orang itu dari balkon mereka bagaikan hamparan abu yang berhamburan kesana-kemari kurasa dunia saat ini semakin menyempit Bangunan-bangunan yang menjulang tinggi itu, seperti kelopak mata yang beradu kedip menjulang menganggaki langit, dan mereka menutupi yang berada dilindungannya. Sidoarjo, 2026

Sabarku Selantang Bumi

Gambar
Merangkai masa menyisakan memori Seperti serangkai sajak, seindah samudra Deru debur yang datang derasnya Membilas mimpi yang menyingkap Riwayat lampu tentang amarta. Kupandang bintang menerjang gelanggang Meninggalkan nyaman, tuk melawan getir Sidoarjo, 2026

Menitik Doa

Gambar
Kasihmu yang tak lekang layu dan baktimu tertumpah padaku murni saling menyemai doa antara aku dan kau   Tuhan telah menjadi saksi, sepantun doaku yang terus bersemi   Saban waktu, rentangan harap terbalas surga supaya mujur pada jagat Sidoarjo, 2026

Mengulas Udik Memakai Tawa

Gambar
Di ceruk jantung metropolitan deru dera masih terdengar, keriuhan dan kepelikan di ujung negeri.   Semua terbaul keteduhan, bak permata yang tersuruk. Semua kepermaian masih terusih.   Hutan gulana, bahkan paya kehidupan, memancarkan betapa indahnya negeriku.   Tapi taukah disana? Kita menemukan santun Kita menemukan senyuman Kita menemukan keteduhan Dari paras berhias mutiara   Setiap latisan menjadi tongkat menacap dan tumbuh, membuktikan betapa bersyukurnya berada di pelosok negeriku.

Sketsa Kata

Gambar
Tutur kata melayu riau berdesir pesat Teramat jernih lamun jeluk makna   Angin membahu secopeng pesan Yang merahap pada sangkala lama   Bait demi bait terampas damai Mencipta muara asak rasam   Seolah sampur berwarna hijau Yang dijelujur dengan tabah

Awal Mula

Gambar
  Berakar pada noktah padat nan panas Ia menggema dalam lengangnya malam Bersemi di sela keabadian   Lalu, kau melepas badai gelisah Mencipta percikan sabit, bak bintang gemulai Yang bersanding dengan rintik kehidupan   Semesta pun terbina dari sunyi yang terpaut Rasa riang menadah di kehadirannya.

Di Balik Ramainya Gubuk Metropolis

Gambar
Di telungkup lutut metropolis polusi mengisi segala lini sisi seolah bertafakur senyap. mencari tahu akan ranah lain tempat di mana kampung adalah- rumah bagi kebahagaian yang sederhana   Ladang dan sawah menjadi peraduan padi dan sayur menjadi curahan   Bak permata yang tersuruk, semua kepermaian masih terusih, hutan lega, bahkan paya kehidupan.   Tapi taukah disana? Kita menemukan keramah tamahan, kita menemukan senyuman, kita menemukan kesejukan,   dari paras berhias mutiara, setiap lapisan menjadi tongkat menacap dan tumbuh.   Membuktikan, betapa bersyukurnya berada di pelosok negeriku. Semua- tebaul oleh keteduhan. O, tuan. Singgahlah sejenak dari- Pengembala khas itu.   Seolah tak pernah jengah. Mereka terus menapakkan- kakinya hingga pelosok dan- mengusut kerupawanan- nya tanah air mu.   Ketika kau mengelih, udara syahdu mengalir laju.   Disuguhi dengan lanksap- w...

Kibou no Hikari

Gambar
Mungkin, jika aku tidak bermalas-malasan. Aku tidak akan sesukses saat ini. Ini adalah kisahku, Soichiro Honda. Aku adalah pemilik Honda, yang biasanya berlalu lalang di jalan raya. Seperti yang sudah kujelaskan diawal, aku adalah anak yang suka bermalas-malasan. Saat itu aku duduk dibangku sma, lebih tepatnya aku yang berumur 16 tahun. “Masih muda sekali ya? saat itu aku lagi tampan-tampannya.” Celotehku.             Aku yang muda selalu mengeluh kepada ibu. Entah perihal pelajaran matematika yang membosankan, atau gurunya yang menyebalkan, bahkan soal peraturan sekolah pun kuluapkan dengan cara menceritakannya ke ibu.             Semenjak saat itu, aku mulai malas pergi kesekolah. Aku menganggap bahwa sekolah adalah tempat paling menyebalkan yang pernah aku temui. Aku merasa bahwa “percuma saja datang kesekolah. Toh itu nggak berpengaruh kedalam hidupku. Justru dengan perg...

Deru Kemenangan Oleh Sukma yang di Bungkam

Gambar
Aku adalah kemarau yang tandus bunga-bunga mantikku selalu- Mengharapkan guyuran pamrih.   Aku masih berkelana Kelamnya batang tubuhku. Saat- menjeru aku disambut dengan sorak- sorai yang riuh penuh makna.   Jikalau aku membawa siuh maka- panggilah asmaku, bawa aku hirap pada mentari emasmu.   Jantung waktu berdegap lantam sedangkan sukmaku masih berkutat dengan ajal yang membisu.   Aku mencoba menderu pada takdir, bersangga pada kiblat yang bimbang.   Singgah pada perasaan tanggung- kepala. Kulihat rona matamu pasang surut memandangi serpihan harapan.   Kini kemenangan beradang menaksir- dirimu. Kau makbul saat gelap menerka.