Di Balik Ramainya Gubuk Metropolis


Di telungkup lutut metropolis

polusi mengisi segala lini sisi

seolah bertafakur senyap.

mencari tahu akan ranah lain

tempat di mana kampung adalah-

rumah bagi kebahagaian yang sederhana

 

Ladang dan sawah menjadi peraduan

padi dan sayur menjadi curahan

 

Bak permata yang tersuruk,

semua kepermaian masih terusih,

hutan lega, bahkan paya kehidupan.

 

Tapi taukah disana?

Kita menemukan keramah tamahan,

kita menemukan senyuman,

kita menemukan kesejukan,

 

dari paras berhias mutiara,

setiap lapisan menjadi tongkat

menacap dan tumbuh.

 

Membuktikan, betapa bersyukurnya

berada di pelosok negeriku. Semua-

tebaul oleh keteduhan.

O, tuan.

Singgahlah sejenak dari-

Pengembala khas itu.

 

Seolah tak pernah jengah.

Mereka terus menapakkan-

kakinya hingga pelosok dan-

mengusut kerupawanan-

nya tanah air mu.

 

Ketika kau mengelih,

udara syahdu mengalir laju.

 

Disuguhi dengan lanksap-

wana yang terbentang leluasa,

bak burung-burung menari di-

atas sukarnya praja modern.

 

Tempat yang dulu-

Menimang raga kecil mu, kini

kita yang membalasnya dengan-

meruwat jisimnya.

 

Sidoarjo, 20 Oktober 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deru Kemenangan Oleh Sukma yang di Bungkam

Fana

Rindu