Deru Kemenangan Oleh Sukma yang di Bungkam

Aku adalah kemarau yang tandus

bunga-bunga mantikku selalu-

Mengharapkan guyuran pamrih.

 

Aku masih berkelana

Kelamnya batang tubuhku. Saat-

menjeru aku disambut dengan sorak-

sorai yang riuh penuh makna.

 

Jikalau aku membawa siuh maka-

panggilah asmaku, bawa aku hirap

pada mentari emasmu.

 

Jantung waktu berdegap lantam

sedangkan sukmaku masih berkutat

dengan ajal yang membisu.

 

Aku mencoba menderu pada takdir,

bersangga pada kiblat yang bimbang.

 

Singgah pada perasaan tanggung-

kepala. Kulihat rona matamu pasang

surut memandangi serpihan harapan.

 

Kini kemenangan beradang menaksir-

dirimu. Kau makbul saat gelap menerka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fana

Rindu