Aku adalah kemarau yang tandus bunga-bunga mantikku selalu- Mengharapkan guyuran pamrih. Aku masih berkelana Kelamnya batang tubuhku. Saat- menjeru aku disambut dengan sorak- sorai yang riuh penuh makna. Jikalau aku membawa siuh maka- panggilah asmaku, bawa aku hirap pada mentari emasmu. Jantung waktu berdegap lantam sedangkan sukmaku masih berkutat dengan ajal yang membisu. Aku mencoba menderu pada takdir, bersangga pada kiblat yang bimbang. Singgah pada perasaan tanggung- kepala. Kulihat rona matamu pasang surut memandangi serpihan harapan. Kini kemenangan beradang menaksir- dirimu. Kau makbul saat gelap menerka.
Di saat dunia sedang sibuk berkembang di saat matahari menilik dalam kilau aku menatap langit-langit kamarku membenamkan mata dari surya yang mulai tumbuh berkembang menghiasi jendela kamarku Aku menatap orang-orang itu dari balkon mereka bagaikan hamparan abu yang berhamburan kesana-kemari kurasa dunia saat ini semakin menyempit Bangunan-bangunan yang menjulang tinggi itu, seperti kelopak mata yang beradu kedip menjulang menganggaki langit, dan mereka menutupi yang berada dilindungannya. Sidoarjo, 2026
Seperti sungai yang mengaliri pikiran seperti halnya saat kita dahulu saat waktu terus merangkak perlahan menghanyutkan rasa perlahan membawa persahabatan seperti sekarang tenang. Kulihat kemarin kau menyeruput sisa-sisa genangan masa lalu kulihat dirimu menyemai tawa dan mengunyah kebahagian kita bersama. Sidoarjo, 2026
Komentar
Posting Komentar