Kibou no Hikari

Mungkin, jika aku tidak bermalas-malasan. Aku tidak akan sesukses saat ini. Ini adalah kisahku, Soichiro Honda. Aku adalah pemilik Honda, yang biasanya berlalu lalang di jalan raya.

Seperti yang sudah kujelaskan diawal, aku adalah anak yang suka bermalas-malasan. Saat itu aku duduk dibangku sma, lebih tepatnya aku yang berumur 16 tahun. “Masih muda sekali ya? saat itu aku lagi tampan-tampannya.” Celotehku.

            Aku yang muda selalu mengeluh kepada ibu. Entah perihal pelajaran matematika yang membosankan, atau gurunya yang menyebalkan, bahkan soal peraturan sekolah pun kuluapkan dengan cara menceritakannya ke ibu.

            Semenjak saat itu, aku mulai malas pergi kesekolah. Aku menganggap bahwa sekolah adalah tempat paling menyebalkan yang pernah aku temui. Aku merasa bahwa “percuma saja datang kesekolah. Toh itu nggak berpengaruh kedalam hidupku. Justru dengan pergi kesekolah, semakin membuatku seperti terkena gangguan jiwa.”

            Namun ini adalah kesalahan yang fatal, aku berucap seperti itu dan bertindak seenaknyaa sampai dikeluarkan dari sekolah. Dan disitulah bencana mulai berdatangan.

            Perkataan yang pernah kuucapkan seolah-olah menyita seluruh kebahagiaan hidupku. Dan inilah kenyataan yang harus kuterima, Mungkin jika aku tidak berucap serapah kala itu. Hidupku mungkin sekarang jauh lebih baik, dibanding sekarang yang hanya berbaring dilantai yang beralaskan futon yang keras.

            1 tahun setelah keluar dari sekolah, aku dihantui dengan pikiran bersalah dan ketakutan yang terus bergelanyutan di rongga-rongga pikiran. Aku buta, hilang arah, serta sesat. Kupikir diriku saat ini sedang kritis soal psokologis yang lama-kelamaan dapat membuatku seperti orang gila.

            Hingga disuatu malam, Saat keluarga bermarga Soichiro duduk melingkari meja berbentuk persegi panjang untuk menikmati lezatnya unagi kabayaki, yang disandingkan dengan nasi panas. Sementara disisi lain aku hanya berdiam diri di kamar dan menyaksikannya melalui lubang kunci di pintu kamarku. “Betapa rakusnya adikku, si Benjiro Honda” tanpa sadar saat aku menjauhkan pandanganku dari lubang kunci, aku melihat ada seseorang yang sedang beridiri di depan pintu.

“Nak, buka pintunya”

“Cepat buka pintunya, hei Honda. Keluarlah”

            Rupanya itu adalah ayah. Aku bingung, penasaran, dan bertanya-tanya mengapa ayah datang ke kamarku, padahal biasanya ia selalu mengabaikanku untuk berdiam diri seharian di kamar.

“Bangunlah lebih awal, besok, akanku hantarkan kau menemui teman ayah”

“Hah?” Aku bingung dengan maksud ayah. Hingga kuberanikan diri untuk bertanya kepada beliau, apa maksud dari perkataannya itu.

“Aku tahu bahwa kau memiliki ambisi dalam memahami mesin. Ayah sering melihatmu begadang hanya untuk menambah pemahaman tentang mesin-mesin itu.”

Deg

Ayah, apa yang kau lakukan dikamarku setiap malam”

“Ayah hanya khawatir soal keadaanmu nak”

Aku termangu oleh perkataan ayah, ia tahu betul mengenaiku. Dan ternyata ayah juga tau bagaimana kondisi sikolog ku saat ini. Kata ayah, daripada aku menjadi beban keluarga, ia rela untuk menghantarkanku kepada temannya supaya aku mendapat pekerjaan.

            Pada bulan maret, aku telah resmi bekerja sebagai pengasuh bayi. Bayi yang ku asuh adalah bayi dari direktur bengkel art. Awalnya aku hanya menerima permintaan ayah supaya aku berkerja. Dan kupikir ucapan beliau yang kemarin adalah penyemangat.

            Namun ternyata salah, tapi aku tidak peduli akan hal itu. Setidaknya aku masih berkerja dan bukannya berbaring seharian di atas futon. Aku sudah berkerja selama 5 bulan, dan gajiku? Tidak ada separuhnya dari gaji ayah.

            Sesekali aku malas untuk pergi berkerja, Entahlah, aku pikir penyakit mentalku sudah berkurang. Setiap malam aku mengalami insomnia yang parah. Aku mampu menghabiskan separuh botol dari kapsul untuk mengatasi gangguan tidur.

            Hari ini adalah hari yang melelahkan. Dimana aku harus sarapan dan berkerja lembur karena orang tua si bayi yang pergi keluar kota. Sesampainya di rumah orang tua si bayi, Aku melihat tuan dan nyonya yang panik karena mobil yang mereka tumpangi sedang tidak baik-baik saja.

“Permisi”

“Oh, nak Honda. Syukurlah kau datang lebih awal”

“Begini, apa kau mempunyai pengalaman tentang mesin mobil?”

“Mobil yang akan kami gunakan sedang macet”

Tanpa basa-basi aku melihat dan mendekat kearah mobil, memperhatikan setiap sisinya, apakah terdapat kejanggalan dibagian mesinnya. 1 jam sudah berlalu dan mobil milik tuan sudah berkerja seperti semula. Setelah kejadian itu, tuan memberiku kesempatan untuk menjadi kepala bengkel art, aku hanya tidak menyangka bahwa tuan mempercayai kemampuanku.

Kini, aku membuka cabang pertamaku di Hamamatsu. Saat malam tiba, gejala insomnia masih berlanjut. Namun malam ini berbeda, tanganku terus bergulir dengan pensil. Aku sibuk merancang ide-ide dalam projekku kali ini. Aku ingin membuat mesin berkaki empat yang biasanya berkeliaran di jalan menggunakan nama “Honda”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deru Kemenangan Oleh Sukma yang di Bungkam

Fana

Rindu